Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 10 Juli 2012

Curah Gagasan: Solusi Pendidikan

Siapa yang tidak pernah mentok karena dihadapkan pada suatu masalah? Siapa yang suntuk dengan berbagai pertanyan sedangkan untuk menjawabnya saja, telah pusing kepala? Mungkin kita seringkali merasakannya. Jawabannya adalah solusi kreatif. Inovasi berasal dari pemikiran kreatif, dan inilah yang akhirnya dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran hebat hingga maha karya yang luar biasa bagi dunia dan segala isinya. Tom Kelley dalam bukunya, The Ten Faces of Innovation, menyampaikan setidaknya lima aturan untuk melakukan curah gagasan, yaitu kejar kuantitas, dorong munculnya gagasan-gagasan liar, ciptakan visualisasi, tunda penilaian, buat percakapan. Lima tata pikir ini dapat kita pergunakan, baik bagi diri kita sendiri sebagai pengejar pendidikan atau pemberi pendidikan. Mari kita bahas bersama-sama. 1)Kejar kuantitas, artinya buatlah gagasan sebanyak-banyaknya, dengan begitu akan munculah berbagai macam solusi awal untuk sebuah permasalahan. Misalnya, ketika sedang kebingungan mencari judul sebuah penelitian, buatlah judul sebanyak-banyaknya, dengan berbagai sudut pandang yang mengarah pada tujuan dan bidang yang digeluti. Faktor kuantitas seringkali menjadi kumpulan ide utama, dan tentu saja itu adalah hasil pemikiran yang luar biasa. Selanjutnya, mudah saja, tinggal diseleksi dari ratusan ide tersebut untuk dipilih yang terbaik. Istilahnya, hasil dari ini adalah menemukan yang terbaik di antara sekian banyak yang baik. 2)Dorong munculnya gagasan-gagasan liar, artinya munculkan gagasan-gagasan yang ‘aneh’. Biarkan keanehan-keanehan itu muncul karena itulah kunci sebuah kekreatiifan. Awalnya, mungkin bisa dimunculkan dengan sebuah pertanyan, atau mungkin beberapa. Misalnya dalam bentuk sederhana, tanyakan pada diri, apa yang bisa dilakukan dengan sebuah tongkat? Analogi yang lebih berat, sesuaikan dengan target kajian/penelitian yang akan dilakukan, misalnya, apa yang dapat saya teliti dari anak jalanan? Nah, tentu ini bisa dijawab dengan berbagai perspektif atau lingkup keilmuan, bisa dari bahasa, pemerintah, ekonomi, kesehatan, bahkan mungkin teknologi, luar biasa bukan? Ini hanya salah satu pertanyaan, di awal sudah disampaikan bahwa kunci brainstorming adalah kreatif, buatlah banyak pertanyaan, yakinlah akan banyak pula jawaban, maka selesailah satu ide awal. 3)Ciptakan visualisasi. Oke, visualisasi adalah bentuk nyata dari sebuah keabstrakan. Atau minimal buatlah seolah-olah itu adalah nyata. Setelah ide kreatif tersebut muncul, gambarlah apa yang ada dalam pikiran. Paling minimal bayangkan apa yang akan dilakukan. Misalnya, ketika sudah dapat ide terkait penelitian yang akan dilakukan pada anak jalanan, cabangkan kembali segala hal yang dapat dilakukan untuk mereka. Jangan lupa buat juga dalam percabangan yang lain, langkah-langkah yang dapat dilakukan. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah mengacu pada target, berarti mengarah pada hasil dan pembahasan kajian/penelitian, adapun langkah-langkah yang dilakukan berkaitan dengan metodologi penelitian/kajian. Sederhana sekali kan! 4) Tunda penilaian. Intinya buatlah sebanyak-banyak ide pada setiap langkah, ide tidak hanya ketika akan mencari tema buku, bahkan hingga pemecahan masalah di akhir, anggaplah di bagian kesimpulan dan saran, tetap dibuat sekreatif mungkin. Masalah penilaian, nanti setelah muncul masanya, yaitu masa korektif. Jadi, awali dengan kreatif sebanyak-banyaknya, baru diimbangi dengan kritis. Nah, kritis inilah yang akan membantu memperbaiki dengan sebaik-baiknya. 5)Buat percakapan. Percakapan bisa dibuat satu waktu, sebagai penyeimbang. Oh ya, percakapan tidak hanya dengan orang ya, tapi juga bisa dengan buku. Artinya, baik orang maupun buku, bisa menjadi sisi-sisi yang dapat mengimbangi pemikiran kita. Khusus untuk percakapan dengan orang, yang faktualnya membutuhkan kecerdasan non verbal, dapat dilakukan dengan cara: dengarkanlah baik-baik, catat (jika merasa ingatannya lemah, catatlah dalam kertas), berlakulah sopan dan ajaklah diskusi dengan bahasa bijak, bersikaplah layaknya orang yang haus ilmu sehingga orang tersebut akan maksimal memberikan ilmunya, dan terkhir, ketika telah yakin dengan pendapat tersebut, dapat dijadikan sebagai pondasi untuk arah yang lebih baik. Berdasarkan ulasan di atas, marilah kita kenang kisah orang-orang luar biasa. Pertama, nabi Muhamad SAW yang sempat dikatakan ‘gila’ oleh kaumnya, ketika beliau menyampaikan kebenara. Kedua, para ilmuwan, masih ingat kisah Einstein yang gagasan ditolak oleh para gurunya, bahkan ia disebut gila. Namun, ia tetap kreatif menyelesaikan kajiannya. Atau Beethoven, seorang pemusik yang justru berkarya dengan segala keterbatasannya. Awalnya, ia biasa memegang biola dengan cara yang aneh dan lebih memilih memainkan karyanya sendiri ketimbang memperbaiki tekniknya. Bahkan, karena keterbelakangan dan pandangan miris dari orang-orang, gurunya menyebut dia sebagai “komponis tanpa harapan”. Akan tetapi, pada akhirnya bahkan ia mampu menulis lima simfoni terkenalnya, dengan telinga yang tuli total. Dua orang terakhir adalah orang yang ‘aneh’ yang memiliki metode dan pemikiran-pemikiran asing bagi dunia di sekitarnya, dan tentu saja seringkali melakukan kesalahan terutama kegagalan. Namun percayalah, keindahan-keindahan dari sebuah kesalahan itulah yang akan membuat kita semakin cerdas. Biarlah menjadi pemikir asing, orang-orang asing inilah yang akan menjadi orang langka. Gagasan-gagasan yang tepat seringkali mengalir dari sesuatu yang mulanya tampak asing, dari asing itulah, kita bisa membuatnya tidak asing, tentu saja ketidakasingan itu karena kita mampu membuatnya berterima, paling parah mungkin tidak masa ini, tetapi masa-masa yang akan datang. Demikianlah ulasan berkaitan dengan lima aturan tersebut, sekaligus dengan ulasan pemetaan pikiran, semoga bermanfaat. Selamat mencoba, mencoba sebanyak-banyaknya, semoga berhasil! Dan akhirnya nanti, selamat merayakan keamatiran Anda!

Rabu, 21 Maret 2012

selaksa mata

Pandanganku menghadirkan getaran yang teramat hebat
Pandanganku membenamkan keangkuhanku
Pandanganku menenggelamkan kesedihanku
Maka teduh it uterus berjatuhan
Menghujani relung-relung hatiku yang sempat kering
Jatuh tak tertahankan

Ya Rabb,
salahkah hamba yang kurang menjaga ini
ataukah memang ini pertanda kehadiran benih bunga
adakahpertanda Kau hadirkan cinta itu di antara kami

Dan Hatiku,
Kutanamkan di dalamnya mutiara nan terang
Hingga tiba saatnya ia dapat menyinari jiwa ini
Tanpa mentari di siang hari
Dan ia mampu berjalan di malam hari tanpa rembulan

Dan kau wahai pemuda,
Kedua matamu itu ibarat sihir
Pandangannya laksana pedang nan tajam
Sungguh kuteramat sadar engkau milik Allah
Pada setiap tatapan mata yang terasa indah mempesona
Mengapa kita harus bertemu
Dalam kelalaian hati ini karena tak mampu menjaganya
Sungguh, mata inilah yang salah
Sungguh panah-panah iblis itu telah mengotori hati
Menyusupkan buih-buih kepiluan yang teramat panjang
Yang membuat malam-malam di hatiku terasa semakin kelam
Dan siang terasa begitu meletihkan

Sungguh engkau adalah pribadi yang agung
Dan, Mutiara yang kau taburkan itulah yang membiaskan cahaya terang di hatiku
Menembus sisi-sisi kelam hatiku
Mencoba menerangkan kambali relung-relung hati yang gelap ini

Duhai insan yang mulia
Kuberharap hadirmu adalah cahaya yang terang
Yang akan membawaku pada titik penuh cahaya
Mengajarkanku pada sebuah keinsyafan dan keyakinan

Rabu, 25 Januari 2012

RAMBUT

Rasulullah saw. Bersabda :
“akan tiba di akhir zaman nanti suatu kaum yang menyemir rambutnya dengan semir hitam bagaikan dada burung merpati, mereka ini tidak akan mendapatkan bau harumnya surga”. (Nasai)
Mua’awiyah ra. Berkata: “Rasulullah saw, melarang menambah rambut (sanggul/wig)”. (Nasai). “Rasulullah saw. Melarang wanita mencukur rambutnya”. (Nasai). Dari ibnu umar ra: “Rasulullah saw. Melaknak wanita yang menyambung rambutnya dan meminta disambung rambutnya, dan yang membuat tato dan yang minta dibuatkan tato”. (Nasai)
Imam Nawawy rah.a. mengomentari hadits di atas dengan mengatakan bahwa menyambung rambut adalah suatu kemaksiatan yang besar, karena adanya laknat bagi yang melakukannya. Bahkan barangsiapa membantunya dalam hal haram, maka akan mendapatkan dosa yang sama dengan yang melakukannya. Dengan dalil-dalil di atas, maka dalam hal rambut ini, ada beberapa pengharaman bagi wanita, antara lain:
1. Al-Wasilah : orang yang menyambung rambut seorang wanita dengan rambut lain.
2. Al-Mustausilah : orang yang meminta rambutnya disambung.
3. An-Namishah : orang yang memotong rambut alis seseorang.
4. Al-Mutanamishah : orang yang meminta rambut alisnya di cukur.
Selain yang empat di atas, juga diharamkan bagi wanita adalah memotong rambutnya hingga habis (gundul) dan memakai rambut palsu. Keharaman ini termasuk sedikit ataupun banyak.
Pernah ada wanita dari golongan anshar datang hendak menikah, sedangkan ia dalam keadaan sakit sehingga rambutnya rontok. Lalu mereka bermaksud menyambung rambutnya, dan mereka bertanya kepada Nabi saw, maka beliau menjawab: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang meminta agar rambutnya disambung”. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ada seorang lelaki pada zaman khalifah Umar bin Khattab ra. Rambutnya sudah beruban banyak, tetapi rambut-rambut itu disemirnya dengan warna hitam, kemudian disambungnya dengan rambut lain sehingga tidak tampak lagi ubannya dan ia terlihat lebih muda. Setelah menikah, keluarga istrinya mengadukan halnya kepada Umar ra. Dan mereka berkata: “. Orang lelaki itu dipanggil dan dihukum pukulan yang menyakitkan sekali. Kemudian Umar ra/ berkata: “Engkau telah menipu orang banyak”. Penipuan semacam ini dapat terjadi dimana saja dan kepada siapa saja. Dan perbuatan itu qadalah suatu tipuan (zuur) yang termasuk dalam perbuatan dosa besar.
Sebenarnya dari rambut seseorang dapat menghasilkan pahala, jika dalam mengurusnya sejalan dengan aturan agama. Atau sebaliknya, rambut pun dapat mengakibatkan murka Allah swt. Jika dalam mengurusnya bertentangan dengan aturan agama.

Minggu, 17 April 2011

“AKAR DAN KEHIDUPAN”

Suatu ketika, seorang anak duduk duduk sendiri merenung dan murung. Tampak masghul dengan wajah tercenung. Sang ayah mendekatinya. Sembari menyentuh dagu si anak, sang ayah menatapnya dengan tersenyum. Penuh bijak dan lembut berkata, “ada apakah gerangan yang terjadi denganmu wahai anakku?”

Si anak masih terdiam. Mata beningnya memancarkan sebuah Tanya. Kini ia menatap sang ayah dan berkata, “Ayah, sampaikan kepadaku tentang makna hidup?”

Ayahnya yang bijak menjawab, “Anakku, Hidup juga adalah amanah, setiap amanah akan dipertanggungjawabkan, pertanggungjawaban terberat adalah di hadapan-Nya kelak. Hidup itu seperti sebuah perjalanan. Setiap peristiwa di jagad raya ini adalah potongan-potongna mozaik, terserakan di sana-sini. Itu tersebar dalam tersebar dalam rentan waktu dan rang-ruang namun perlahan-lahan ia akan membentuk sosok seperti montase antoni gaudi mozaik-mozaik itu akn membangun , siapa engkau dewasa nanti, lalu apa yang kau kerjakan dalam hidup ini akn bergema dalam keabadian. Maka berkelanalah di muka bumi ini dengan mozaikmu. Itu akan menjadi bekalmu kelak ketika kau menghadap-Nya.”

“Ada apakah engkau menanyakan ini, duhai anakku” Tanya Sang Ayah.

Si anak kini tampak lebih cerah matanya. Tampak ia mulai memperlihatkan keberaniannya untuk menyampaikan maksud di hatinya yang sebenarnya.

“Ayah, tampak berat memang perjalanan hidup itu. mozaik-mozaik itu tampak sangat berserakan dan membuatku terbentur pada langkah-langkah untuk mengumpulkannya. Ayah, salah satu dari mozaik itu adalah kisahku ini. Hari ini adalah pemilihan ketua kelas. Dan, ketua tersebut adalah teman baikki. Tahukan Ayah, bagaimana aku sangat kecewa dengan keputusan kelasku, guruku dan teman-temanku, bahkan mungkin sahabat baikku itu. Tahukah ayah, selama ini aku telah berbuat baik kepada mereka, bahkan aku sangat mengutamakan mereka dibandingkan diriku sendiri. Aku pikir, ketika aku berbuat baik dan mengutamakan mereka, aku akan dipercayakan oleh mereka. Tapi, ternyata tidak. DUhai Ayah, ceritakan kepadaku tentang keikhlasan?”


“Anakku, mari belajar dari akar. Ia tidak terlihat, tapi ia sangat menopang kehidupan. Maka, jadilah akar yang gigih mencari air, menembus tanah yang keras demi sebatang pohon. Ketika pohon itu tumbuh, memiliki daun rimbun, berbunga indah, menampilkan eloknya di dunia dan menghadirkan banyak pujian untuk pohon tadi. Apakah akar merasa iri? Ia tetap tersembunyi di dalam tanah. Betapa bijak akar, ia tetap ikhlas dan tidak mengharapkan untuk terlihat. “ jawab Sang Ayah.

“Namun Ayah, apakah keikhlasan itu bisa mewujudkan sebntuk cinta dari orang-orang kepadaku?” Tanya Anang kembali.

Kini Sang Ayah tersenyum, semabari mengelus rambut Sang Anak, ia berkata, “Anakku, belahan jiwaku. Ayah pernah berkata kepadamu tentang Filsuf yang bernama Plato. Ia pernah berkata, Jika engkau ingin mengetahui derajatmu di tengah masyarakat, maka perhatikanlah orang yang engkau cintai tanpa alasan. Anakku, seperti itulah kita belajar tentang keikhlasan. Ketika engkau mencintai orang-orang di sekitarmu tanpa alas an, tanpa syarat. Ketika engkau bertanya, mengapa engkau mencintai mereka? Engkau tidak bisa menjawabnya.”
Subhanallah, semoga kita bisa belajar dari kisah ini. Belajar bersama tentunya. Semoga bermanfaat.

Minggu, 06 Februari 2011

Indahnya Puisi

Apakah Sastra itu? Pertanyaan ini tidak begitu saja mudah dijawab. Setiap jawaban yang diberikan tidak akan menimbulkan kepuasan penanya. Namun demikian, jika seseorang ditanya tentang apakah ia pernah membaca karya sastra. Jawabannya, “ya, pernah atau belum”. Atau, jika seseorang ditanya apakah ia menyukai sastra, dengan segera pula timbul jawabannya, “ya” atau “tidak”, sesuai dengan pengalaman keseharian hidupnya bergaul dengan sastra. Ini berarti, secara konseptual yang ditanya tidak dapat menjelaskan tentang “apa itu sastra”, tetapi dalam keseharian ia mengenal “sastra sebagai suatu objek yang dihadapinya. Dalam kehidupan keseharian pula, pada umumnya orang menyukai sastra.

Kata-kata mutiara, ungkapan-ungkapan yang bersifat persuasif yang merupakan salah satu ciri khas keindahan bahasa sastra sering kali digunakan orang dalam situasi berkomunikasi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan orang ke arah bersastra. Salah satu bagian dari kegiatam bersastra adalah mengepresiasi sastra. Kegiatan mengapresiasi sastra adalah sesuatu hal yang menarik dan tidak pernah terhenti selagi karya sastra itu masih diciptakan. Hal ini disebabkan sastra memiliki hubungan yang cukup erat dengan kehidupan khususnya pengarang dan pembacanya.

Sastra sebagai bagian dari hasil pikiran maupun perasaan yang tertuang dalam karyanya adalah keindahan yang melukiskan imajinasi pengarang. Seperti yang disampaikan oleh Tarigan (1995:3), sastra merupakan suatu bentuk dan struktur bahasa sebagai pembayangan atau pelukisan kehidupan dan pikiran imajinatif. Sastra adalah suatu bentuk keindahan dan kekayaan yang tidak ternilai harganya.

Keindahan karya sastra tidak terlepas dari masyarakat yang menikmatinya. Tidak menutup kemungkinan pula kalau masyarakat yang menjadi objeknya. Kaitan dua jenis masyarakat ini dapat disatukan dalam karya sastra. Ketiganya bak temali yang saling terkait. Pada dasarnya masyarakat dan sastra merupakan suatu hubungan yang simbolik dan bermakna serta antara sastra dan aktifitas manusia memiliki keterkaitan (Warren dan Wellek, 1989:131). Ujung dari apresiasi karya sastra dan masyarakat adalah budaya. Sebagai bentuk kebudayaan, sastra memiliki begitu banyak pengaruh bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa mengkaji masalah karya sastra adalah suatu hal sangat bermanfaat. Demikian pentingnya analisis tentang sastra dalam kehidupan kita, sehingga dalam uraian ini merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap suatu karya sastra.

Salah satu jenis karya sastra adalah puisi. Kita pasti sering mendengar kata puisi. Sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi kita belajar tentang puisi, namun jika kita resapi secara seksama tidak banyak orang yang mengerti tentang arti sebenarnya dari kata puisi tersebut.Dalam makalah ini akan memnbahas tentang pengertian dan ragam puisi.
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poesies ‘pembuatan’ dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Piisi diartikan sebagai ‘membuat dan pembuatan karena lewat puisi pada dasarnya seseortang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah. (Aminudin, 1987:134). Hal senada juga disampaikan oleh Suroto (1989:40) bahwa puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang pendek dan singkat yang berisi ungkapan isi hati, pikiran, dan perasaan pengarang yang padat yang dituangkan untuk memanfaatkan segala daya bahasa secara pekat, kreatif dan imajinatif.
Puisi sebagai salah satu karya sastra yang dapat diapresiasi, tentu menunjukkan bahwa puisi adalah suatu hasil karya sastra yang sangat menarik. Banyak hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk apresiasi. Misalnya, salah satu cara yang dapat dipergunakan adalah memperbanyak pemahaman tentang puisi. Puisi dapat mengandung isi yang bersifat faktual serta sesuatu yang bersifat abstrak. Sebagai wacana, puisi memiliki dua struktur: kongkret dan abstrak. Keterlibatan unsur-unsur luar yang secara struktural sebenarnya masih merupakan mata rantai teks, dalam interpretasi makna akan membantu pemaknaan lambing lewat projection. Dalam proses memaknai yang melibatkan proses penafsiran yang cukup kompleks, akan tertempuh langkah kegiatan meliputi pengidentifikasian makna yang tekandung dalam struktur kongkret, pengidentifikasian relasi makna antar kata serta baris, pelaksanaan abstraksi dari berbagai kemungkinan makna.

Salah satu cara yang dapat dipergunakan adalah memperbanyak pemahaman tentang puisi adalah denngan mengaprsiasikannya. Apresiasi puisi dapat dilakukan dengan cara mengkaji puisi tersebut. Puisi dapat dikaji dari berbagai macam aspeknya. Menurut Pradopo (2005: 3) “Puisi juga dapat dikaji dari sudut sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi ditulis dan selalu dibaca orang”. Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan keadaan zaman tersebut

Selanjutnya, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara memperbanyak membaca tulisan yang berhubungan dengan puisi, misalnya bacaan tentang teori puisi, kritik puisi, sejarah puisi, dan resensi puisi (Suharianto, 1981:16—17). Dalam menciptakan puisi tentu masih sangat perlu diperhatikan unsur bunyi dan musikalitas. Akan tetapi, penataan kata dan pola persajakkannya biasanya tidak sama dari masa ke masa. Misalnya, puisi-puisi pada zaman dahulu lebih tersusun dan terikat, dan inilah yang disebut puisi lama. Lain halnya dengan puisi-puisi pada zaman berikutnya atau yang sering disebut puisi modern yang terkesan lebih bebas dalam mengekspresikan dalam kata-kata ataupun dari segi bentuknya.

Tentu, puisi tetap menarik dengan berbagai bentuk pengekspresiannya sebagai salah satau bagian dari kegiatan apresiasi. Meskipun demikian, penjelasan tentang apresiasi puisi dengan menggunakan metode teaterikal dan musikalisasi puisi yang dikaji dalam pemaparan ini masih sangat butuh masukan dan perbaikan.

Senin, 24 Januari 2011

SEBUAH CERITA UNTUKMU, KO !!

Cinta telah tersimpan dalam penjagaan yang teramat rapi
Ia tau masa surutmu saat kau berada pada musim pasangmu
Ia dicari tidak sekedar bersama untuk membunuh waktumu
Ia ada untuk bersama menghidupkan sang waktu
Ia mengambil kesempatan untuk dipersilahkan
Ia tak pernah meminta untuk dikunjungi
Ia telah ada di setiap hati-hatimu


Riko duduk di sisi pembaringan sembari memegangi kepalanya yang terasa berat, sesekali desahan masih terdengar. Riko mendesah panjang, sambil mengepalkan tinjunya ke busa tempatnya berbaring, ia berusaha bangun. Masih saja begitu berat beban pikiran di benaknya.

"Kita harus mengakhirinya Ko, tak ada ikatan apapun dalam Islam antara seorang laki-laki dan wanita kecuali khitbah dan pernikahan, ini haram, Ko". Riko mendesis mengingat kata-kata Ajeng sore tadi, ada sesuatu menyayat ulu hatinya, perih. Dan ia tak habis mengerti perubahan jalan pikiran Ajeng akhir-akhir ini. Ah, putri keraton itu begitu mudahnya memutuskannya. Padahal, ia begitu menyayanginya dan tentu membanggakannya. Ya, bangga karena Ajeng adalah Sang Putri!!

Riko bangkit dari duduknya, dengan langkah lunglai ditariknya kursi lalu dihempaskan pantatnya. Ia menekuri meja, ditatapnya foto Ajeng yang ada di depannya, lantas dengan kasar disorongkannya ke sudut meja. Tangan Riko menarik album yang terselip di deretan buku, dengan tanpa gairah dibukanya album itu dan terhenti pada foto dirinya yang sedang berangkulan dengan Aditya. Hah, saudara sepupuku, teman semasa kecilku itu akan segera pulang, apa yang akan kukatakan padanya!? Batin Riko terus berkata.

Terbayang saat-saat yang dihabiskanya selama 21 tahun bersama Aditya sampai mereka memutuskan untuk berpisah, karena ia lebih memilih Yogya sebagai kelanjutan studinya. Berbeda halnya dengan Aditya yang menerima tawaran paman mereka untuk melanjutkan ke Belanda. Empat tahun mereka habiskan di jurusan bahasa dan sastra. Mereka memang sangat menyukai sastra. Hanya saja, Aditya lebih suka melanjutkan S2 Sastra di Leiden Universteit di Belanda, dan ia lebih suka melanjutkan ke UGM Jogja. Tentu, dua kota itu memiliki makna masing-masing yang akan mereka kejar di sana. Ya, 21 tahun bukan masa singkat untuk dilupakan, bahkan untuk satu hal yang tidak akan pernah terlupakan, sebuah janji terakhir ketika ia melepas kepergian sepupunya itu. Ah, janji itu!!

Sambil tetap melekatkan ke wajah mereka, Riko menarik sebatang rokok. Dengan gerakan malas ia berusaha menyalakannya, gagal, Riko kehilangan konsentrasi meski hanya untuk sekedar menyalakan rokok pun tak mampu. Setelah berulangkali batang korek api yang dinyalakan mati sebelum sempat membakar ujung rokoknya, Riko memukulkan kepalan tangannya dengan keras ke meja hingga barang-barang yang di atasnya bergetar dan foto Ajeng dalam bingkai yang berada di sudut jatuh dan pecah.

Riko menyengir memandangi foto orang yang sebenarnya dikaguminya itu tapi dengan seenaknya memberi keputusan sepihak di antara pecahan kaca. Hatinya kalut membayangkan kepulangan Aditya yang ditemani Sang Anelise sementara dirinya seorang diri menggigit bibir. Dengan sisa konsentrasinya Riko kembali menyalakan rokoknya, didekatkan ujung yang satunya ke mulut lalu dihembuskannya perlahan-lahan, ia berusaha mencari kenikmatan dari lintingan Riko tin itu. Tatapan Riko kembali ke album, dengan lebih teliti diamatinya wajah Aditya lalu wajahnya, ingatannya melayang ke percakapan mereka berdua sebelum Aditya terbang ke Belanda.

“Inilah saatnya kita cari gandengan Dit!"
"Betul, aku janji akan membawakan untukmu seorang calon ipar yang darahnya biru. Kau masih ingat bukan kisah cinta Minke-Anelise di Novel Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer. Novel yang ditugaskan Pak Ali untuk kita kaji waktu kita semester empat? Anelise yang melebihi kecantikan Ratu Wilhemia. Aku akan membawakannya untukmu Ko, sebagai iparmu” ucap Aditya dengan yakinnya.
"Dan yang jelas, kalo mau ketemu Eyang jalannya gak pake nunduk-nunduk, hhh,. Hhhhaa" lanjut Aditya.
"Oke, aku pegang janjimu. Haaa, haaha dan untuk calon iparku, kau harus bawa yang rambutnya kayak rambut jagung, kalo mau ketemu di pintu pagar sudah bilang hello.”
"Ya deh aku janji. Oh ya, seperti apakah calon iparku kelak my Bro, Riko Jayakusuma Hadiningrat?” Tanya Aditya sambil mendelik lucu.
“Aku kebalikan darimu saudaraku, Aditya Jayawinata Hadiningrat! Aku akan ke Jogja, aku akan menemukan putri keraton yang ayu lagi lembut, santun dan taat, haha” Jawab Riko tak mau kalah.
“Oke, aku akan meyakinkan eyang kakung Hadiningrat kalau aku bisa membawakannya menantu bule yang berdarah biru. Dan kau akan membawakannya menantu putri keraton yang anggun lagi lemah lembut, hmm.” Sahut Aditya.

Ada kerinduan menyeruak bila mengingat, bagaimana mereka saling meledek lalu tertawa bersama dan tiba-tiba wajah Riko bertambah sendu mengingat kesepakatan mereka untuk membawa pacarnya masing-masing dalam “Pertemuan Agung”. Keluarga besar Hadingrat sangat menantikan dua pemuda ini membawakan calonnya masing-masing. “Pertemuan Agung”!! begitu mereka mengistilahkan. Mereka juga sepakat untuk merekam cerita masing-masing dalam kaset. Riko memainkan kepulan asap rokoknya, dibayangkan hari-hari Aditya bersama Sang Anelise, serba menyenangkan. Riko geram membandingkan dengan nasibnya. Jangankan putri keraton yang anggun lagi lembut, putri dari kalangan biasa pun ia tak bisa membawakannnya pada “pertemuan agung” itu.
"Sebenarnya aku kangen sekali, Dit". Riko mendesah sebuah perasaan merasa terkalahkan menghalanginya untuk bergegas menyambut kedatangan Aditya di bandara.

Riko mematikan mesin mobilnya, dengan gontai ia melangkah keluar, Riko berdiri tegak mengamati rumah berlantai dua yang berdiri megah di depannya, terlalu banyak kenangan bersama Aditya bahkan sejak mereka berdua masih dalam perut. Bayangan keberadaan Sang Anelise yang jelita seperti yang digambarkan Pram pada Novel Bumi Manusia itu sedang berjalan nan anggun di sisi Aditya dan tidak adanya Ajeng membimbingkannya untuk segera masuk. Tapi segera disadarinya jika saudara sepupu tak mesti harus bernasib sama, dilangkahkan juga kakinya memasuki rumah dengan lewat tangga samping langsung menuju kamarnya yang juga kamar Aditya. Sepi, mungkin Aditya dan Sang Anelise baru ngobrol dengan ibunya di bawah, pikirnya. Ketika mata Riko menangkap kaset yang tergeletak di meja dan ia yakin pasti itu rekaman Aditya , segara disambarnya dan langsung mendekati tape. Sejenak setelah jari Riko menekan tombol Play ....

"Assalamu'alaikum Riko, aku kangen sekali padamu. Maaf Ko, aku tak bisa mengajak Karren seperti janjiku, ini janji yang satunya, dengar yaa... serius nih. Riko, Belanda memang dengan suka cita memberikan apa yang kebanyakan diimpikan anak muda, kebebasan, hura-hura dan kesenangan-kesenangan dunia yang lainnya yang memabukkan, di hampir setiap sudutnya justru ditawarkan dengan yang menggiurkan. Iya, sastra yang kita geluti bertahun-tahun begitu berkembang na indah di sini. Tapi Riko, kamu setuju bukan, sebenarnya kebebasan, hura-hura juga surga-surga dunia tak pernah bisa memberikan apa yang sesungguhnya didambakan setiap orang yaitu sejatinya kebahagian. Aku yakin semua orang yang telah mencoba menikmati segala kebebasan itupun mengakui jika mereka mau jujur pada suara hatinya yang paling dalam. Riko, jika bukan karena Islam, kemungkinan besar aku ini telah berubah menjadi binatang di sana. Hidup mematuhi nafsunya tanpa mengenal batasan dan tak lagi kenal apa itu haram. Riko , segala puji hak Allah semata, yang telah mempertemukan dengan Mas Arifin, orang Bandung yang baru mengambil S3 di sana. Lewat beliau aku mengkaji Al-Qur'an dan lewat beliau Allah berkenan membukakan hatiku untuk mengenali Islam yang sesungguhnya, Islam sebagai sistem juga sebagai jalan hidup. Riko, aku mengenal dan pernah mencintai Sang Anelise yang dulu kita ceritakan itu, tentu namanya bukan Anelise, ia bernama Karren. Tapi, sejak mengenal Islam, otomatis hubunganku dengan Karren berakhir, padahal aku begitu menunggu waktu pertemuan denganmu dimana aku bisa membanggakan Karren yang cantik, cerdas dan supel. Keputusan harus kuambil, meski sangat berat karena tangan-tangan nafsu begitu kuat mencengkramku, tapi seberat apapun bukankah aku harus memenangkan aturan agamaku, aturan Allah. Jangankan pacaran yang memungkinkan berduan dan macam-macam, menurutkan pandangan saja tetap diharamkan. Bukankah ketaatan yang harus kita tunjukkan sebagai bukti dari pengakuan kita adalah muslim. Meski akal kita belum menerimanya, tidak tahu apa manfaatnya karena ilmu kita tak lebih dari setetes air dari ujung jari yang dicelupkan ke luasnya samudra tak bertepi bila dibanding dengan kemahatahuan Allah. Kenapa kita sering merasa sok tahu, dengan memberi argumen-argumen yang didasarkan nafsu. Riko , setelah aku mendapat gambaran yang jelas tentang Islam, aku bertekad untuk senantiasa hidup bersamanya, berusaha memberikan apa yang kubisa untuk membelanya dan memimpikan kejayannya. Dengan itu mulai kurasakan artinya hidup dan ternyata di situlah aku menemukan ketentraman dan sejatinya kebahagiaan. Riko , Dalam setiap doaku aku selalu memohon, kamu pun ..... “
Riko segera menekan tombol stop, rasanya tak sanggup lagi ia mendengar suara Aditya yang setiap kalimat seakan menelanjanginya. Seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Di tengah berbagai kenikmatan dunia menyesatkan yang ditawarkan oleh pesatnya laju kemajuan zaman, Aditya bisa menemukan jalan mana yang benar-benar bisa menyelamatkan dan mengantarkan ke surga yang sesungguhnya, sementara dirinya dibingungkan oleh kemajuan jaman yang tak dipahaminya, tak tahu arus akan mengantarkanya ke mana. Riko meraba pipinya, jemarinya menemukan air yang mengalir dari sudut matanya. Rasanya Riko terhempas membandingkan apa yang ada di kepalanya dan yang di kepala Aditya . Selama ini hidup yang dijalaninya sangatlah remeh, tak punya muatan apa-apa. Sesuatu yang ada diotaknya hanya apa yang akan menyenangkan nafsunya. Rasa rindunya pada Aditya tiba-tiba tak terbendung. Seketika Riko berbalik ketika terdengar salam dan ia yakin siapa yang mengucapkannya.

"Aaa…dityaaa!!!” pekiknya terbata-bata, seakan tak percaya menyaksikan Aditya sudah berdiri di ambang pintu kamarnya, dengan wajah bersih mencerminkan ketenangan dan sorot mata penuh wibawa. Dijawabnya salam dengan suara yang hampir tak terdengar. Keduanya masih terpaku di tempat masing-masing, namun hanya beberapa detik.

"Riko " Aditya berjalan sambil membentangkan tangannya. Tak sesaatpun Riko menunggu, ia langsung menghambur ke arah Aditya . Segenap perasaan yang menggedor-gedor jiwanya ditumpahkan dalam pelukan saudara sepupunya itu. Ada isak tertahan.

"Dit, maukah kau mengenalkanku pada Islam yang sebenarnya?" Ucap Riko terbata setelah mereka mengurai rangkulan masing-masing, Aditya tak menjawab, namun di rangkulnya kembali saudara kembarnya dengan lebih erat lagi. Untuk sesuatu yang tak ternilai harganya .....hidayah